 | Evelyn 01/05/2008:
dan aku pun pulang menuju rumah yang hanyut pada kalender
tanggal demi tanggal bertanda lingkaran hitam
air di sini menjelma kuburan |
|
| |
 | Evelyn 30/03/2008:
Kereta sore membawaku pergi, tanpa ada tangismu
Rintik hujan telah maknai sedihmu,
pada yang harus tinggalkan sejumlah derita
engkau takut terbebani sepi
kepedihan sertai sunyi hidup
deras hujan takkan cukup ganti
yang telah pergi. Engkau tenggelam
dalam dingin rindu
Kereta sore menujukan mimpiku,
meski engkau harus lenyap,
meski terpenjara kerinduan,
namun aku sempat menyematkan
sebuah permata di jari manismu |
|
| |
 | Evelyn 30/03/2008:
Kereta sore membawaku pergi, tanpa ada tangismu
Rintik hujan telah maknai sedihmu,
pada yang harus tinggalkan sejumlah derita
engkau takut terbebani sepi
kepedihan sertai sunyi hidup
deras hujan takkan cukup ganti
yang telah pergi. Engkau tenggelam
dalam dingin rindu
Kereta sore menujukan mimpiku,
meski engkau harus lenyap,
meski terpenjara kerinduan,
namun aku sempat menyematkan
sebuah permata di jari manismu |
|
| |
 | Evelyn 22/03/2008:
Memanjang tenun kata di kain tanya penduduk muara; Ratu Bisa memetuk paras kubur dengan bahasanya yang berkibar mengarungi jala surga. “Tinggalkan ingatanmu bunda ranah,” desisnya parau kepada dendam kematian; semenjak ia menatap arinya tertanam di teras pondok siksaan. Ratu Bisa mempecundang darah muara oleh rona kebencian yang tulus. Menggali sarang perangkap dari senyum pesona cinta, dan mempertautkan kasih bencana di tengkuk semilir tuan angin. |
|
| |
 | Evelyn 15/03/2008:
Debur rasa yang menggelora Membawa asa dalam hempasan gelombang Semua keinginan terlalu mempesona Membawa angan terbang melayang
Kebimbangan hati untuk menikmati Matahari Menikmati setiap kepingan sinar kerinduan Sinar mentari yang menumbuhkan bunga hati Tumbuh subur di sanubari yang berkeinginan
Angin berdesir sejuk Bertiup bertaut sang bunga hati Membawa butir rindu untuk memeluk Rasa yang tak terperi dan kokoh terpatri
Awan gundah Datang menghampiri berarak Menghempas rindu tak berakhir sudah Dan terus membawa benih cinta yang tak terelak
Sang pengelana mimpi Datang dengan sebuah hati Untuk seorang pujaan hati Yang sedang terbang pergi Tapi pasti akan kembali untuk satu rasa di hati Untuk bersatu dalam suatu ikatan suci tak akan terbagi Pengelana mimpi selalu tulus menanti dengan sebuah cinta murni |
|
| |
 | Evelyn 01/03/2008:
seribu fragmen rinai di jendela kacamu. Terjaga hingga plasa kota, luruh ke penjuru pencarian Diam.
kenangan tergores di palka bordes kursi kisut ribuan kisah pada rel membeku, waktu bertanya sendu. Tunggu.
Peluit memecah penantian--juga keraguan. Sepi merajuk sendiri. Menunggui anakanak memungut karcis takdir, dari loket peron separo kusam. Matanya membiru buram. Dendam. |
|
| |
 | Evelyn 20/02/2008:
itu hak mu!!!! dan aku menangis dalam diam itu!! seribu kalimat menyergap dengan pucat rintih merintih teriris mulut tak sanggup berucap hanya kata maap mengunci langit gelap sayatan asmara hilang aku sembunyi di ari ari waktu membiarkan gelap menutup jendela pandang hanya kicau angin yang basah di kedua dinding mati aku kusam tak berarti biarlah biarlah... dan pergi... aku siap !
|
|
| |
 | Evelyn 20/02/2008:
itu hak mu!!!! dan aku menangis dalam diam itu!! seribu kalimat menyergap dengan pucat rintih merintih teriris mulut tak sanggup berucap hanya kata maap mengunci langit gelap sayatan asmara hilang aku sembunyi di ari ari waktu membiarkan gelap menutup jendela pandang hanya kicau angin yang basah di kedua dinding mati aku kusam tak berarti biarlah biarlah... dan pergi... aku siap !
|
|
| |
 | Evelyn 15/02/2008:
kelembutan apa yang menyapa dari lengking suara yang menyanyikan gugur bunga plastik di televisi dan tenda-tenda yang dikemas sedemikian rupa dalam dengung tahlil tujuh hari perkabungan. tujuh hari kerudung hitam tersampir di kepala-kepala yang menunduk. apa yang dicari dari tanah yang telah kenyang bersaksi atas sejarah sumir yang disemir seperti kilap lars tentara yang menderap di dada jelata. apa pula yang arti bendera yang lesu setengah tiang malu ditampar angin dari lautan yang telah meluapkan amarahnya hingga jalan-jalan tol. berapa banyak pompa yang sanggup kau sediakan untuk menyedot limpasan air mata dari kenyataan yang terlanjur becek mengejek kekerdilan agung yang menggemaung bersama tembakan salvo. siapa pula yang berderet di pinggir jalan dengan lambaian tangan yang ditulis sebagai bunga dalam obituari di langit istana sementara dalam kepala ribuan jelata bersembulan ribuan pertanyaan tentang banjir dan penggusuran, tentang hidup yang butuh hiburan dan keramaian. ah. sejarah tetap harus dituliskan tanpa perlu menghitung jasa dan dosa. jelata tak punya surga. jelata tak punya neraka. yang mati selesai. yang hidup masih harus terus berkelahi melawan amnesia, melawan euforia, melawan kemunafikan, melawan kekerdilan. |
|
| |
 | Evelyn 09/02/2008:
Menanti sebuah cinta di hati yang kunantikan
Sebabku tak mampu membaca firasat hati
Kan kudengar senandung kata hatiku
Sebabku tak sanggup mengartikan getar yang ada kini
Mengapa berat yakinkan tentang cinta
Mengapa kau sulit mengaku cinta padahal terasa
Dalam ruang rindu dan sunyi malam
Hati ini terus berbisik tentang suatu asa
Akhirnya kita harus memilih satu yang pasti
Mana mungkin terus jalani keraguan ini
Karna cinta takkan ingkari takkan terbagi
Karena cinta tidak untuk menyakiti
Walau harus kurelakan matahari pergi
Aku bisa terima meski harus terluka
Karena ku terlalu menyayangimu dan tak bisa dustai
Biarlah semua menjadi debu yang tak berarti
Dan aku harus bisa memahami
Lebih baik jangan mencinta, agar tidak saling tersakiti
Berakhirlah sudah semua kisah ini
Inilah takdir bahwa kita tak akan bisa memiliki
|
|